Selasa, 26 April 2011

FILSAFAT BAHASA (MAKALAH)

FILSAFAT BAHASA DALAM PENGAJARAN DWIBAHASA
(BILINGUAL TEACHING)




OLEH :
YODI HASRUL FIRMANSYAH





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PACITAN
2010
DAFTAR ISI

BAB   1            PENDAHULUAN
BAB   2            MEMAHAMI FILSAFAT BAHASA
A.        PENGERTIAN FILSAFAT BAHASA
B.        OBYEK FILSAFAT BAHASA
C.        METODE MEMPELAJARI FILSAFAT BAHASA
D.       MANFAAT MEMPELAJARI FILSAFAT BAHASA
BAB   3           FILSAFAT BAHASA DALAM PENGAJARAN DWIBAHASA (BILINGUAL TEACHING)
BAB   4           KESIMPULAN


BAB   I
PENDAHULUAN
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani : ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Para filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang berbeda itu tidak mendasar. Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi.
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
Sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
Berikut ini beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli :
·        Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
·        Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
·        Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )
·        Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
·        Paul Nartorp (1854 – 1924 ) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya .
·        Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.
1.         Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika )
2.         Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika )
3.         Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama )
4.         Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )
·        Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
·        Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.
·           Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.
·           Harold H. Titus (1979 ): (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.
·           Hasbullah Bakry: Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.
·           Prof. Mr.Mumahamd Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan.
·           Prof. Dr. Ismaun, M.Pd  : Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.
·           Bertrand Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak bisa dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.
Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.
BAB  II
MEMAHAMI FILSAFAT BAHASA

A.        Pengertian Filsafat Bahasa
                 Hadirnya filsafat bahasa  dapat dikatakan sebagai suatu hal yang baru.  Filsafat bahasa muncul bersamaan dengan kecenderungan filsafat abad ke-20 yang bersifat logosentris.  Berikut ini adalah beberapa pandangan para ahli mengenai filsafat bahasa.
                 Verhaar menunjukkan dua jalan yang dikandung dari filsafat bahasa, yakni 1) filsafat  mengenai bahasa dan 2) filsafat berdasarkan bahasa.  Verhaar memberikan dua pengertian “bahasa” yang dijadikan titik pangkal untuk berfilsafat, yaitu bahasa yang diartikan eksklusif dan bahasa yang diartikan inklusif. 
                 Bahasa dalam pengertian eksklusif  merupakan suatu pelukisan yang dapat dipakai sebagai pedoman pengantar umum atas aliran “filsafat analitik” (analisis bahasa) yang lahir di Inggris.  Sedangkan untuk bahasa yang diartikan sebagai “inklusif” merupakan bahasa yang ditujukan untuk aliran hermeneutika.
                 Menurut Rizal Muntansyir, filsafat bahasa ialah suatu penyelidikan secara mendalam terhadap bahasa yang dipergunakan dalam filsafat, sehingga dapat dibedakan pernyataan filsafat yang mengandung makna (meaningfull) dengan yang tidak bermakna (meaningless).
                 Asep Ahmat Hidayat berpendapat bahwa pengertan filsafat perlu didekati dari dua pandangan, yaitu filsafat sebagai sebuah ilmu dan filsafat sebagai sebuah metode.  Oleh karena itu, pengertian filsafat bahasa pun bisa didekati dari dari dua pandangan tersebut.  Jika pengertian filsafat bahasa dilihat dari sebuah ilmu, maka filsafat bahasa adalah kumpulan hasil pekiran para filosof mengenai hakikat bahasa yang disusun secara sistematis untuk dipelajari dengan menggunakan metode tertentu.  Sedangkan, jika diartikan sebagai sebuah metode berpikir, ia bisa diartikan sebagai metode berpikir secara mendalam , logis dan universal mengenai hakikat bahasa.

B.        Obyek Filsafat Bahasa
                 Kata obyek dalam kamus besar bahasa Indonesia mengandung lima pengertian, yaitu :
1.      Hal, perkara atau orang yang menjadi pokok pembicaraan
2.      Benda, hal dan sebagainya yang menjadi obyek untuk diteliti.
3.      Pelengkap dalam kalimat
4.      Hal atau benda yang menjadi sasaran usaha sambilan
5.      Bayangan dari suatu sistem lensa

Dalam konteks ilmu pengetahuan , penertian yang cocok dari kata obyek adalah hal, benda atua perkara yang menjadi sasaran penelitian atau studi.  Biasanya obyek ilmu pengetahuanitu dibedakan menjadi dua, yaitu obyek material (material object) dan obyek formal (formal object)
Obyek material adalah benda, hal atau bahan yang menjadi obyek, bidang atau sasaran penelitian.  Misalnya manusia merupakan obyek material dan ilmu psikologi, biologi, sosiologi dan sejarah.   Sedangkan benda mati, merupakan obyek material dan ilmu pengetahuan alam (fisika, kimia dan astronomi).  Sedangkan obyek formal ialah aspek atau sudut pandang tertentu terhadap obyek materialnya.
 C.        Metode Mempelajari Filsafat Bahasa
                 Metode merupakan kata dari bahasa Yunani, meta dan hodos.  Meta berarti menuju, melalui, sesudah, dan mengikuti.  Sedang hodos berarticara, jalan atau arah.  Dalam ilmu pengetahuan, metode sering diartikan dengan jalan berpikir dalam bidang penelitian untuk memperoleh pengetahuan, atau merupakan salah satu langkah dari seluruh prosedur (methodology) penelitian tentang pengetahuan.
                 Terdapat lima metode yang dapat digunakan untuk mempelajari filsafat bahasa.  Kelima metode itu adalah :
1.         Metode Historis
2.         Metode Sistematis
3.         Metode Kritis
4.         Metode Analisa Abstrak
5.         Metode Intuitif

               Metode historis atau metode sejarah adalah suatu metode pengkajian filsafat yang didasarkan pada prinsip-prinsip metode historigrafi yangf meliputi  empat tahapan: heuristic, kritik, intepretasi, dan historigrafi.  Heuristic artinya penentuan sumber kajian.  Intepretasi artinya melakukan intepretasi terhadap isi sebuah sumber kajian atau pemikiran seorang ahli filsafat mengenai pemikirannya disekitar bahasa.  Sedangkan historigrafi adalah tahapan penulisan dalam bentuk rangkaian cerita sejarah.  Dalam konteks ini adalah cerita sejarah filsafat bahasa.
              
               Metode sistematis adalah metode pembahasan filsafat bahasa yang didasarkan pada pendekatan material (isi pemikiran).  Melalui metode ini, seseorang bisa mempelajari filsafat bahasa mulai dari aspek ontology filsafat bahasa, kemudian dilanjutkan pada aspek epistemology, dan akhirnya sampai pada pembahasan mengenai aspek aksiologi filsafat bahasa.  Selain itu melalui metode sistematis ini,seseorang bisa juga mempelajari filsafat bahasa mulai dari salah satu aliran tertentu dan selanjutnya mempelajari aliran lainnya.  Misalnya, mempelajari aliran bahasa (analitik), kemudian mempelajari aliran lainnya, seperti positifisme logis, strukturalisme, post strukturalisme dan postmodernisme.
              
               Metode  kritis digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif.  Biasanya digunakan oleh mahasiswa tingkat pasca sarjana.  Bagi yang menggunakan metode ini haruslah sudah memiliki pengetahuan filsafat.  Mengkritik boleh jadi dengan menentang suatu pemikiran atau bisa juga mendukung suatu pemikiran.  Metode semacam ini telah dilakukan  oleh George Moore ketika mengkritisi filsafat hegalianisme (neo idealisme) di Inggris dengan cara mengkritisi pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh para filsuf hegalianisme.  Selanjutnya diteruskan oleh para peletak dasar aliran analisa bahasa, seperti B. Russel dan Wittgestein.

               Metode analisis abstrak yaitu dengan cara melakukan kegiatan urai setiap fenomena kebahasaan dengan cara memilah-milah.  Selanjutnya dilakukan generalisir secara abstrak sesuai dengan kaidah berfikir logis.  Analisis dilakukan dengan cara memadukan analisis logis deduksi dengan analisis induksi sebagaimana yang telah dilakukan B. Russel.

               Metode intuitif, yaitu dengan melakukan introspeksi intuitif dan dengan memakai symbol-simbol.  Metode ini telah lama dipraktekkan oleh para ahli tasawuf (Islam) dan mengungkap hakikat kebahasaan secara kasyaf.  Di dunia barat, tokoh yang telah mempraktekkan metode ini adalah Henry Bergson.

D                       Manfaat Mempelajari Filsafat Bahasa
Berfilsafat adalah  berusaha menemukan kebenaran (realitas yang sesungguhnya) tentang segala sesuatu dengan berpikir serius.  Kecakapan berpikir serius sangat diperlukan oleh setiap orang.  Banyak persoalan yang tidak dapat di selesaikan sampai saat ini.  Hal ini dikarenakan karena persoalan tidak  ditangani secara serius, hanya diwacanakan saja. 
Mempelajari filsafat (termasuk filsafat bahasa) adalah berlatih secara serius untuk mampu menyelesaikan suatu persoalan yang sedang dihadapi dengan cara menghadapi persoalan dengan tuntas dan logis.  Seseorang tidak akan memiliki kemampuan seperti ini jika ia tidak melatihnya.  Masih banyak manfaat yang dapat kita peroleh dengan mempelajari bahasa, diantaranya adalah :
1.      Menambah pengetahuan baru
2.      Bisa berpikir logis
3.      Biasa berpikir analitik dan kritis
4.      Terlatih untuk menyelesaikan masalah secara kritis, analitik dan logis
5.      Melatih berpikir jernih dan cerdas
6.      Melatih berpikir obyektif

BAB   III
FILSAFAT BAHASA DALAM
PENGAJARAN DWIBAHASA (BILINGUAL TEACHING)
Filsafat bahasa adalah beralasan penyelidikan ke alam, asal-usul, dan penggunaan bahasa Sebagai topik, dengan filsafat bahasa untuk filsuf analitik berkaitan dengan empat masalah utama: sifat makna , menggunakan bahasa, bahasa kognisi , dan hubungan antara bahasa dan realitas . Untuk filsuf kontinental Namun, filsafat bahasa cenderung harus ditangani, bukan sebagai topik yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari logika , sejarah atau politik . (Lihat bagian "Bahasa dan Continental Filsafat" di bawah ini.)
Pertama, filsuf bahasa ke menanyakan sifat makna, dan berusaha untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan "berarti" sesuatu. Topik dalam vena yang mencakup sifat sinonim , asal makna itu sendiri, dan bagaimana makna yang bisa benar-benar diketahui. Lain proyek yang sedang this heading dari minat khusus untuk filsuf analytic bahasa is the penyelidikan the cara which are dikomposisikan menjadi kalimat keluar whole Berarti meaning of its parts.
Kedua, mereka ingin memahami apa yang pembicara dan pendengar dengan bahasa dalam komunikasi , dan bagaimana ia digunakan social kepentingan khusus mungkin mencakup topik belajar bahasa , penciptaan bahasa, dan tindak tutur .
Ketiga, mereka ingin tahu bagaimana bahasa berkaitan dengan pikiran baik pembicara dan penerjemah . Dari bunga tertentu adalah dasar untuk sukses terjemahan kata-kata ke kata lain.
Akhirnya, mereka menyelidiki bagaimana bahasa dan makna berhubungan dengan kebenaran dan dunia. Filsuf cenderung kurang peduli dengan kalimat yang sebenarnya benar, dan banyak lagi dengan jenis apa makna bisa benar atau salah. Seorang filsuf kebenaran berorientasi bahasa mungkin bertanya-tanya apakah suatu kalimat bermakna bisa benar atau salah, atau apakah kalimat dapat mengekspresikan proposisi tentang hal-hal yang tidak ada, bukan kalimat cara digunakan.
Pengertian bahasa menurut Bloch and Trager adalah sebagai berikut. Bahasa ialah….an arbitrary system of vocal sPeymbols, by means of which members of a community interact with each other.  Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang sifatnya arbitraris yang dipakai menjadi sarana komunikasi anggota masyarakatnya.  Ada beberapa hal yang penting, pertama bahasa adalah suatu sistem. Kedua, bahasa adalah lambang.  Ketiga, bahasa itu berbentuk bunyi.  Keempat, bahasa itu bersifat arbitraris. Kelima, bahasa itu berfungsi sebagai sarana komunikasi antara masyarakat manusia.
Letak perbedaan antara filsafat bahasa dengan linguistik  adalah; Linguistik bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat bahasa.  Jadi, para ahli bahasa menganggap bahwa kejelasan tentang hakikat bahasa adalah tujuan akhir kegiatannya.  Sedangkan  filsafat bahasa mencari hakikat ilmu pengetahuan atau hakikat pengetahuan konseptual.  Dalam usahanya mencari hakikat pengetahuan konseptual, para filsuf mempelajari bahasa bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai obyek sementara agar pada akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual itu.
Didalam mendefinisikan bahasa, para ahli bahasa dari aliran strukturalis  berpendapat bahwa fungsi bahasa memang untuk berkomunikasi, saling berinteraksi, untuk tanya jawab, menyuruh, menyahut, melarang, meminta, berseru, dll.
Dapat dikatakan bahwa fungsi bahasa beserta variasinya adalah sebagai berikut.
1.         Sebagai alat berkomunikasi (menyampaikan maksud)
2.         Sebagai alat penyampai rasa santun.
3.         Sebagai penyampai rasa keakraban dan hormat.
4.         Sebagai alat pengenalan diri.
5.         Sebagai alat penyampai rasa solidaritas.
6.         Sebagai alat penopang kemandirian bangsa.
7.         Sebagai alat penyalur rasa uneg-uneg.
8.         Sebagai cermin peradaban bangsa.

Masalah kebahasaan yang sering dibahas oleh para filsuf biasanya berkisar pada simbol dan arti.  Secara garis besar, pemikiran itu dapat digambarkan sebagai berikut.
1.      Metafisika
Metafisika adalah bagian filsafat yang berusaha memformulasikan fakta yang paling umum dan paling luas, termasuk penyebutan kategori-kategori yang paling pokok atas pengelompokan hal, benda dan gambaran.
2.      Logika
Logika adalah studi tentang inference (kesimpulan-kesimpulan).  Logika berusaha menciptakan suatu criteria guna memisahkan interferensi yang sahih dan tidak sahih. 
Karena penalaran itu terjadi dengan bahasa, maka analisis inteferensi itu tergantung pada analisis statement yang berbentuk premis dan konklusi.
3.      Epistemology
Epistemology (ilmu pengetahuan) menaruh perhatian pada bahasa dalam beberapa aspek, terutama dalam masalah pengetahuan apriori, yakni pengetahuan yang dianggap sudah diketahui tanpa didasarkan pada pengalaman yang sudah dialami secara nyata.
Misal :  7+7 = 14
bagaimana kita tahu bahwa  7+7 = 14, salah satu jawabnya adalah makna masing-masing istilah yang dipakai dalam perhitungan matematika memang sudah kita anggap benar, tanpa melalui pemeriksaan lebih lanjut.

4.      Reformasi bahasa
Para filsuf juga tertarik untuk memperbaiki bahasa, dikarenakan kegiatan keilmuan para filsuf boleh dikatakan tergantung pada pemakaian bahasa.  Ada dua pandangan berbeda terhadap bahasa.
a.    Bahasa berfungsi sebagai sarana pengantar filsafat.
b.   Bahasa yang kita pakai sehari-hari kurang kuat dan kurang sesuai untuk dipakai sebagai sarana pengantar filsafat. Bahasa kita samar, tidak eksplisit, ambigu, tergantung pada konteks dan sering menimbulkan kesalahpahaman.
Pengertian Kedwibahasaan (The Meaning Of Bilingual)
Menurut para pakar linguistik kedwibahasaan didefinisikan sebagai berikut:
1.      Robert Lado (1964:214)
Kedwibahasaan merupakan kemampuan berbicara dua bahasa dengan sama atau hamper sama baiknya.  Secara teknis pendapat ini mengacu pada pengetahuan dua bahasa, bagaimana tingkatnya oleh seseorang.
2.      MacKey (1956:155)
Kedwibahasaan adalah pemakaian yang bergantian dari dua bahasa.
3.      Hartman dan Stork (1972:27)
Kedwibahasaan adalah pemakaian dua bahasa oleh seorang penutur atau masyarakat ujaran.
4.      Haugen (1968:10)
        Kedwibahasaan adalah tahu dua bahasa
5.      Bloomfield (1958:56)
Kedwibahasaan merupakan kemamouan untuk menggunakan dua bahasa yang sama baiknya oleh seorang penutur.
Jika diuraikan secara lebih umum maka maka pengertian kedwibahasaan adalah pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseftif oleh seorang individu atau oleh masyarakat.
Tipologi kedwibahasaan
1.    Menurut Weinrich (1953)
Tipologi kedwibahasaan didasarkan pada derajat atau tingkat penguasaan seorang terhadap keterampilan berbahasa.  Maka Weinreich membagi kedwibahasaan menjadi tiga, yaitu:
a.          Kedwibahasaan Majemuk (Compound Bilingualism)
b.         Kedwibahasaan majemuk adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa salah satu bahasa lebih baik daripada kemampuan berbahasa yang lain.
c.          Kedwibahasaan koordinatif / sejajar
        Kedwibahasaan koordinatif/sejajar adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa sama-sama baik oleh seorang individu.
d.         Kedwibahasaan Sub-Ordinatif (kompleks)
              Kedwibahasaan sub-ordinatif (kompleks) adalah kedwibahasaan yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan B2 atau sebaliknya.
2.    Beaten Beardsmore (1985:22)
                    Beardsmore menambahkankan satu derajat lagi yaitu kedwibahasaan awal (inception bilingualism) yaitu kedwibahasan yang dimiliki oleh seorang individu yang sedang dalam proses menguasai B2.

3.    Pohl (dalam Beatens Beardmore, 1985;5) tipologi bahasa lebih didasarkan pada status bahasa yang ada didalam masyarakat, maka Pohl membagi kedwibahasaan menjadi tiga tipe yaitu:
a.   Kedwibahasaan Horisontal (Horizontal Bilingualism)
      Merupakan situasi pemakaian dua bahasa yang berbeda tetapi masing-masing bahasa memiliki status yang sejajar baik dalam situasi resmi, kebudayaan maupun dalam kehidupan keluarga dari kelompok pemakainya.
 b.  Kedwibahasaan Diagonal (Diagonal Bilingualism)
Merupakan pemakaian dua bahasa dialek atau atau tidak baku secara bersama-sama tetapi keduanya tidak memiliki hubungan secara genetik dengan bahasa baku yang dipakai oleh masyarakat itu.
c.       Kedwibahasaan Vertikal (Vertical Bilinguism)
Merupakan pemakaian dua bahasa apabila bahasa baku dan dialek, baik yang berhubungan ataupun terpisah, dimiliki oleh seorang penutur.

4.   Menurut Arsenan (dalam Baerdsmore, 1985)
Tipe kedwibahasaan pada kemampuan berbahasa. Maka Arsenan mengklasifikasikan kedwibahasaan menjadi dua yaitu:
·        Kedwibahasaan produktif (productive bilingualism) atau kedwibahasaan aktif atau kedwibahasaan  simetrik (symmetrical bilingualism) yaitu pemakaian dua bahasa oleh seorang individu terhadap seluruh aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis)
·        Kedwibahasaan reseptif (reseptive bilingualism) atau kedwibahasaan pasif atau kedwibahasaan asimetrik (asymetrical bilingualism)
DIAGLOSIA DALAM KEDWIBAHASAAN
Diaglosia adalah situasi dimana dau dialek atau lebih biasa dipakai.  (Charles Fergison 1959:136). Diaglosia adalah suatu situasi bahasa yang relatif stabil dimana, selain dari dialek-dialek utama satu bahasa (yang memungkinkan mencakup satu bahasa baku atau bahasa-bahasa baku regional), ada ragam bahasa yang sangat berbeda, sangat terkondifikasikan dan lebih tinggi, sebagai wacana dalam keseluruhan kesusastraan tertulis yang luas dan dihormati, baik pada kurun waktu terdahulu maupun masyarakat ujaran lain, yang banyak dipelajari lewat pendidikan formal dan banyak dipergunakan dalam tujuan-tujuan tertulis dan ujaran resmi, tapi tidak dipakai oleh bagian masyarakat apa pun dalam pembicaraan-pembicaraan biasa. (Hudson 1980:54).  
Diaglosia adalah hadirnya dua bahasa baku dalam satu bahasa, bahasa tinggi dipakai dalam suasana-suasana resmi dan dalam wacana-wacana tertulis, dan bahasa rendah dipakai untuk percakapan sehari-hari.(Hartmann & Strork 1972:67). Diaglosia adalah persoalan antara dua dialek dari satu bangsa, bukan antara dua bahasa. Kedua ragam bahasa ini pada umumnya adalah bahasa baku (standard language) dan dialek derah regional daerah (regional dialect).
PARAMETER/PENGUKURAN DIAGLOSIA
Mackey (1956) mengemukakan bahwa pengukuran kedwibahasaan dapat dilakukan melalui beberapa aspek, yaitu;
a.   Aspek tingkat.
Dapat dilakukan dengan mengamati kemampuan memakai unsure-unsur bahasa seperti fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon serta ragam bahasa.
b.   Aspek fungsi
Dapat  dilakukan melalui kemampian pemakaian dua bahsa yang dimiliki sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Ada dua faktor yang harus diperhatikan dalam pengukuran kedwibahasaan yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang menyangkut pemakaian bahasa secara internal.
Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar bahasa. Hal ini antara lain menyangkut masalah kontak bahasa yang berkaitan dengan lamanya waktu kontak seringnya mengadakan kontak bahasa si penutur dapat ditentukan oleh lamanya waktu kontak, seringnya kontak dan penekannya terhadap bidang-bidang tertentu. Misalnya, bidang ekonomi, budaya, politik,dll.
c.    Aspek Pergantian
              Yaitu pengukuran terhadap seberapa jauh pemakai bahasa mampu berganti dari satu   bahasa kebahasa yang lain. Kemampuan berganti dari satu bahasa ke bahasa yang lain ini tergantung pada tingkat kelancaran pemakaian masing-masing bahasa.
d.     Aspek interferensi
Yaitu pengukuran terhadap kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh terbawanya kebiasaan ujaran berbahasa atau dialek bahasa pertama terhadap kegiatan berbahasa.  Robert Lado (1961) mengemukakan agar dalam pengukuran kedwibahasaan seseorang dilakukan melalui kemampuan berbahasa dengan menggunakan indikator tataran kebahasaan (sejalan dengan Mackey).  Kelly (1969) menyarankan agar kedwibahasaan seseorang diukur dengan cara mendeskripsikan kemampuan berbahas seseorang dari masing-masing bahasa dengan menggunakan indikator elemen kebahasaan kemudian dikorelasikan untuk menentukan keterampilan berbahasa.
John MacNawara (1969) memberikan disain teknik pengukuran kedwibahasaan dari aspek tingkat dengan cara memberikan respon kemampuan berbahasa dengan menggunakan konsep dasar analisis kesalahan berbahasa.
Pengukuran dapat memakai indikator membaca pemahaman, membaca leksikon, kesalahan ucapan, kesalahan ketatabahasaan, interferensi leksikal B2, pemahaman bahasa lisan, kesalahan fonetis, makna kata dan kekayaan makna.
Berbeda dengan pendapat-pendapat diatas yaitu Jakobovits (1970) memberikan desain teknik pengukuran kedwibahasaan dengan cara:
1.         Menghitung jumlah tanggapan terhadap rangsangan dalam B1.
2.          Menghitung jumlah tanggapan dalam rangsangan dalam B2 terhadap B1.
3.          Menghitung perbedaan total antara B1 dan B2.
4.         Menghitung jumlah tanggapan dalam B1 terhadap rangsangan dalam B1.
5.          Menghitung jumlah tanggapan dalam B2 terhadap rangsangan dalam B2.
6.          Menghitung tanggapan dalam b2 terhadap rangsangan dalam B1.
7.          Menghitung jumlah tanggapan dalam b1 terhadap rangsangan dalam B2.
8.          Menghitung tanggapan terjemahan terhadap rangsangan dalam B2.
9.          Menyatakan hasil dalam bentuk prosentase, dan
10.        Menghitung tanggapan dua bahasa terhadap rangsangan B1 dan B2 jika memungkinkan.

Lambert (195:50, mengajukan teknik pengukuran kedwibahasaan dengan mengungkapkan dominasi bahasa, artinya bahasa mana dari dari kedua bahasa itu dominan Mackey (1968) memberikan teknik pengukuran kedwibahasaan dengan menggunakan tes keterampilan berbahasa masing-masing bahasa.

Berikut merupakan ciri-ciri teori kebahasaan tradisional:
1.         Teori-teori kebahasaan yang bersifat tradisional mengambil sumber asumsi-asumsi dan hipotesis tentang bahasa filsafat dan logika. Jadi, Jadi dengan latar belakang filsafat dan logikalah lahirlah asumsi dan hipotesis bahasa.
2.         Data bahasa yang diteliti mulanya adalah data bahasa tertulis dan bahasa yang telah mengenal ejaan.
3.          Data bahasa tertulis itu terbatas pada bahasa Yunani dan latin.
4.         Bahasa dipandang bukan merupakan sebuah produk kebudayaan tetapi hanya dipandang sebagai sarana dan alat komunikasi berpikir.
5.         Data dan Fakta bahasa yang tidak sesuai dengan teori-teori filsafat dianggap kekecualiaan atau kesalahan atau perlu pula diperbaiki sesuai dengan teori filsafat dan logika.

Kelemahan dari teori kebahasaan ini ialah:
1.      Asumsi-asumsi dan hipotesis kebahasan bukanlah harus dikaji dengan fakta dan data bahasa, melainkan fakta dan data bahasa harus disesuaikan dengan asumsi dan hipotesis filsafat dan logika tentang bahasa.
2.      Teori kebahasaan bersifat universal dan dapat dilakukan untuk semua bahasa di dunis, sementara karakteristik setiap bahasa berbeda-beda.





PEMBELAJARAN BAHASA MENURUT BEHAVIORISME
5 tahapan pembelajaran bahasa
  1. Trial and error
  2. Mengingat-ingat
  3. Menirukan                                 Proses pembentukan “kebiasaaan”
  4. Mengasosiasikan
  5. Menganalogi
 Dari langkah-langkah eksperimen Pavlov dan Skinner, dapat diambil kesimpulan bahwa:
  1. Pembelajaran bahasa dapat diamati berdasarkan tingkah lakunya.
  2. pembelajaran bahasa berdasarkan langkah-langkah eksperimennya dilakukan secara ilmiah.
  3. pembentukan bahasa dilakukan secara terprogram dan bertahap.  Renforcement baik berupa ganjaran dan hukuman sangat penting.

PEMBELAJARAN BAHASA MENURUT KOGNITIFISME
1.         Chomsky
-       Manusia sejak lahir memiliki kemampuan yang bersifat bawaan (innate).
-       Pemakaian bahasa  secara terus menerus akan bercampur dengan masukan
-       Belajar adalah proses kreatif dan kognitif.
2.         Dulay & burt
Proses penguasaan bahasa adalah proses yang dialami oleh si penutur ketika ia merekonstruksikan kaidah-kaidah bahasa yang ia simpulkan sendiri
3.         Mac namara
Anak memiliki daya alami untuk belajar bahasa.
4.         Jean Piaget
-          Kemampuan Anak Mengkonseptualisasikan Hubungan Ketatabahasaan Antar Actor-Aksi-Obyek.
-          Kemampuan Anak Memahami Kalimat Yang Mempunyai Makna Lebih.
5.      Krashen
Ada beberapa hipotesis Krashen
I.        Melalui proses pemerolehan dan cara belajar
1.      Melalui proses pemerolehan (acquisition)
·     Terjadi secara ambang sadar (sub-consiousness)
·     Kemampuan berkomunikasi yang dimiliki sangat alamiah seperti penutur aslinya.
·     Proses penguasaan ini tidak bisa dihindari karena bahasa yang dikuasai dibutuhkan untuk hidup.
·     Anak tidak memiliki pengetahuan tentang kaidah bahasa.
·     Tidak diperkuat dengan pengajaran dan koreksi.
2.      Melalui cara belajar
·        Proses terjadi secara sadar (consiousness)
·        Proses belajar bisa dihindari
·        Pembelajar memiliki pengetahuan tentang kaidah ketatabahasaan.
·        Kemampuan dimiliki sebagai akibat pengajaran sehingga terjadi koreksi dari pengajar.

II.     The Monitor Hypothesis
·        Ada waktu yang cukup untuk memilih dan menerapkan kaidah bahasa hasil belajar
·        Berfokus pada bentuk dan output yang benar.
·        Memiliki pengetahuan tentang kaidah.

III.            The Order Hypothesis
                                Proses pemerolehan struktur gramatikal terjadi secara berurutan.  Bentuk-bentuk sederhana akan dikuasai terlebih dahulu dibandingkan bentuk-bentuk kompleks.



IV.              The Input Hypothesis
Kemampuan berbahasa seseorang tergantung inputnya.  Kelancaran berbahasa tidak dapat diajarkan secara langsung.  Kemajuannya pun tergantung pada waktu.


BAB  IV
KESIMPULAN

Didasarkan pada uraian yang telah disajikan dalam bab-bab sebelumnya, terdapat pemikiran dasar yang akan ditekankan dalam bab kesimpulan ini.  Yang pertama adalah bahwa bahasa sejak dulu hingga saat ini telah memberikan andil yang sangat besar bagi perkembangan peradaban manusia.  Melalui symbol-simbol bahasa, karya intelektual, budaya manusia dilestarikan dan dtransformasikan dari satu periode generasi kepada generasi berikutnya. 
Lewat bahasa, manusia dapat menyampaikan dan mengembangkan pemikirannya dalam aneka wujud kebudayaan.  Simbol-simbol bahasa memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan member makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta.
Dari serangkaian pendapat-pendapat yang telah diuraikan, menunjukkan tentang kebhinekaan pendapat mengenai konsep makna dan bentuk pengajaran dwibahasa atau bilingual teaching yang disuguhkan oleh para filsuf dari berbagai macam aliran.  Ini membuktikan bahwa dalam filsafat terdapat bermacam metode perenungan.  Karena itu, jika kita hanya membahas filsafat hanya kedalam satu jenis metode pembahasan khusus saja, ini berarti kita telah berusaha untuk mengusir filsafat dari dunianya. 
Langkah ini sungguh bertentangan dengan sifat atau karakter yang telah dimiliki filsafat.  Dari dulu hingga sekarang, filsafat senantiasa memberikan berbagai alternatif metode untuk memecahkan suatu persoalan.






Daftar Pustaka

Endraswara, Suwardi, 2006, Methodology Penelitian Sastra, Pustaka Widyatama, Yogyakarta
Hidayat, Asep Ahmat, 2006, Filsafat Bahasa, Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung
Pranowo, 1996, Analisis Pengajaran Bahasa, Gajahmada University Press, Yogyakarta
Poedjosoedarmo, Soepomo, 2003, Filsafat Bahasa, Muhammadiyah University Press, Surakarta
Pudjo Sumedi AS., Drs.,M.Ed. dan Mustakim, S.Pd.,MM , Filsafat Bahasa
Betrand Russel.2002. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang (alih Bahasa Sigit jatmiko, dkk ) . Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Ismaun.2007. Filsafat Administrasi Pendidikan(Serahan Perkuliahan ). Bandung : UPI
Ismaun.2007. Kapita Selekta Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan). Bandung : UPI
Koento Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka
Moersaleh. 1987. Filsafat Administrasi. Jakarta : Univesitas Terbuka
Midterm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar